Skip to main content

Perluasan Jenis Alat Bukti dalam KUHAP Baru (UU 20/2025)

Sejak 2 Januari 2026 hukum acara pidana Indonesia bekerja di bawah rezim baru. UU No. 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana mencabut UU No. 8 Tahun 1981, dan bagian pembuktian menjadi salah satu titik yang paling banyak menyentuh praktik sidang. Daftar alat bukti yang sah berubah dari lima jenis menjadi delapan. Perubahan ini menggeser cara hakim, jaksa, dan advokat menyusun strategi di persidangan.

Ilustrasi bukti elektronik dan pemeriksaan perkara

Pasal 235 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2025 merumuskan delapan alat bukti: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, keterangan terdakwa, barang bukti, bukti elektronik, pengamatan hakim, dan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum. Rumusan ini menggantikan Pasal 184 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1981 yang hanya mengenal lima jenis: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Perubahan komposisi alat bukti

Perbandingan kedua daftar itu sederhana. Empat jenis lama bertahan: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, dan keterangan terdakwa. Petunjuk tidak lagi masuk daftar; tiga jenis baru hadir, yaitu barang bukti, bukti elektronik, dan pengamatan hakim. Huruf h menutup daftar dengan klausul terbuka, benda atau keterangan apa pun boleh diajukan sepanjang perolehannya tidak melawan hukum.

Hilangnya petunjuk dari daftar punya konsekuensi praktis, sebab di bawah UU No. 8 Tahun 1981 alat bukti ini kerap menjadi pijakan hakim ketika bukti lain tipis. Pasal 188 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1981 merumuskan petunjuk sebagai perbuatan, kejadian, atau keadaan, yang karena persesuaiannya, baik antara yang satu dengan yang lain, maupun dengan tindak pidana itu sendiri, menandakan bahwa telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa pelakunya. UU No. 20 Tahun 2025 tidak memberi padanan langsung. "Pengamatan hakim" pada huruf g, menurut hemat penulis, bukan pengganti otomatis petunjuk; ia lebih dekat pada hasil pengamatan langsung hakim atas fakta di ruang sidang. Penjelasan resmi huruf g hanya menyatakan "cukup jelas".

Perubahan ini juga mengubah arah perdebatan pembuktian. Daftar UU No. 8 Tahun 1981 bersifat limitatif; UU No. 20 Tahun 2025 memilih sistem setengah terbuka dengan huruf h sebagai penutup. Menurut hemat penulis, pertanyaan sentral bergeser dari "apakah alat bukti ini termasuk jenis yang sah" menjadi "bagaimana perolehannya". Syarat satu-satunya: tidak melawan hukum.

Bukti elektronik dan uji autentikasi

Jenis baru yang paling sering menjadi sorotan praktisi adalah bukti elektronik. Pasal 242 UU No. 20 Tahun 2025 menyatakan cakupannya: segala bentuk Informasi Elektronik, Dokumen Elektronik, dan/atau sistem elektronik yang berkaitan dengan tindak pidana. Dua istilah pertama mendapat definisi di Pasal 1 angka 38 dan angka 39 UU yang sama.

Penjelasan Pasal 235 ayat (1) huruf f merumuskan bukti elektronik sebagai informasi yang diucapkan, dikirim, diterima, atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu. Definisi ini luas; rekaman percakapan, data server, atau dokumen pada perangkat genggam, menurut hemat penulis, masuk di dalamnya.

Satu hal yang langsung mencolok: klasifikasi. Penjelasan Pasal 235 ayat (1) huruf c tetap menyebut surat mencakup dokumen atau data yang tersimpan dalam disket, pita magnetik, atau media penyimpan komputer. Padahal huruf f kini menyediakan tempat khusus untuk bukti elektronik. Tumpang tindih antara "surat" dan "bukti elektronik" berpotensi menjadi sengketa klasifikasi di sidang, dan jawaban atas sengketa itu kemungkinan besar datang dari praktik peradilan.

Ketentuan autentikasi menambah lapisan baru. Pasal 235 ayat (3) UU No. 20 Tahun 2025 mensyaratkan setiap alat bukti dapat dibuktikan autentikasinya dan diperoleh secara tidak melawan hukum. Ayat (4) memberi hakim kewenangan menilai autentikasi dan sah tidaknya perolehan alat bukti yang diajukan. Ayat (5) memuat akibatnya: alat bukti tidak autentik atau yang diperoleh melawan hukum tidak dapat digunakan dan tidak memiliki kekuatan pembuktian.

Dalam pandangan penulis, ayat (3) sampai ayat (5) ini adalah titik paling rawan sekaligus paling penting dari seluruh bagian pembuktian. UU tidak menguraikan cara membuktikan autentikasi, termasuk apakah keterangan ahli cukup atau uji forensik perlu. Praktik peradilan akan mengisinya. Andaikan jaksa mengajukan tangkapan layar percakapan dari telepon genggam, pembela dapat mempersoalkan keutuhan data itu; hakim kemudian menilai sendiri apakah tangkapan layar itu autentik dan bagaimana perolehannya.

Catatan kecil soal struktur pembuktian. Rumusan Pasal 183 UU No. 8 Tahun 1981 yang mensyaratkan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ditambah keyakinan hakim tidak muncul lagi secara harfiah dalam UU No. 20 Tahun 2025. Sebagai gantinya, larangan-larangan spesifik yang bekerja: satu saksi tidak cukup (Pasal 237 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2025), keterangan terdakwa saja tidak cukup (Pasal 240 ayat (4)), dan standar putusan "terbukti secara sah dan meyakinkan" pada Pasal 244. Bagi praktisi, logika minimum dua alat bukti tetap relevan sebagai disiplin pembuktian, meski dasar normatifnya kini berada di beberapa pasal sekaligus.

Pekerjaan rumah praktisi

Jaksa dan advokat perlu mengubah kebiasaan bertanya: pertanyaan pertama atas setiap barang bukti tidak lagi hanya "apa buktinya", melainkan "bagaimana perolehannya dan bagaimana membuktikan autentiknya". Penyidik wajib menyiapkan catatan perolehan bukti elektronik sejak awal, sebab catatan perolehan yang rapi adalah prasyarat autentikasi bukti elektronik. Hakim, dengan kewenangan menilai autentikasi pada Pasal 235 ayat (4), idealnya memuat pertimbangan eksplisit tentang autentikasi alat bukti dalam setiap putusan pemidanaan.

Pasal 236 ayat (4) UU No. 20 Tahun 2025 menyerahkan persyaratan dan tata cara keterangan saksi melalui alat komunikasi audiovisual kepada Peraturan Pemerintah. Sampai aturan pelaksanaan itu terbit, praktik berjalan dengan penafsiran hakim per kasus, dan perbedaan pendekatan antar pengadilan adalah konsekuensi yang wajar.

Satu hal pasti: daftar delapan alat bukti itu akan menghadapi ujian satu per satu di pengadilan. Bagi praktisi, membaca Pasal 235 sampai Pasal 242 UU No. 20 Tahun 2025 beserta penjelasannya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan dasar sebelum menyusun strategi pembuktian.

Referensi

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (UU No. 20 Tahun 2025, LN 2025 No. 188), Pasal 1 angka 38 dan 39, Pasal 235 sampai Pasal 242, Pasal 244, Pasal 362; JDIH BPK.

UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana, Pasal 183, Pasal 184, dan Pasal 188 — JDIH BPK.

Foto: Unsplash.

Comments

Popular posts from this blog

Berapa Lama Maksimal Penahanan? Jangka Waktu dan Penangguhan di KUHAP Baru

Berapa Lama Maksimal Penahanan? Jangka Waktu dan Penangguhan di KUHAP Baru Pertanyaan pertama dari keluarga atau penasihat hukum ketika seseorang masuk tahanan hampir selalu soal waktu: berapa lama proses ini bisa berlangsung. KUHAP baru (UU No. 20 Tahun 2025) menjawabnya dengan angka tegas per tahap pemeriksaan, plus satu lapis perpanjangan khusus dan satu pintu penangguhan. Struktur jangka waktunya nyaris menyalin rezim lama, tetapi syarat menahan dan mekanisme penangguhan bergeser cukup jauh. Selisih itulah poin praktis yang perlu dibaca. Syarat Menahan: Dua Alat Bukti dan Satu Kondisi Pintu masuk penahanan tetap berbasis ancaman pidana. Pasal 100 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2025 berbunyi: "Penahanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 hanya dapat dilakukan berdasarkan surat perintah Penahanan atau penetapan Hakim terhadap Tersangka atau Terdakwa yang melakukan tindak pidana atau melakukan percobaan atau pembantuan melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara...

Delik Aduan Penghinaan Presiden: Putusan MK 275/PUU-XXIII/2025

Delik Aduan Penghinaan Presiden: Putusan MK 275/PUU-XXIII/2025 Mahkamah Konstitusi menutup celah tafsir yang selama ini menggantung di Pasal 220 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. MK membacakan Putusan Nomor 275/PUU-XXIII/2025 pada Rabu, 12 Agustus 2026, dan mengabulkan permohonan uji materiil untuk sebagian: Pasal 220 ayat (1) UU No. 1 Tahun 2023 bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945 serta tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat, sepanjang tidak dimaknai bahwa tindak pidana dalam Pasal 218 dan Pasal 219 "hanya dapat dituntut berdasarkan aduan oleh Presiden dan/atau Wakil Presiden". Inti putusannya sederhana, tetapi konsekuensinya luas: pihak ketiga tidak lagi bisa mengajukan aduan penghinaan presiden atas nama kepala negara. Dua belas mahasiswa menggugat tiga pasal Gugatan datang dari dua belas mahasiswa yang mempersoalkan Pasal 218 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 219, serta Pasal 220 KUHP. Pasal 218 ayat (1) merumuskan: "Setiap Orang yang Di Muka ...

Pidana Denda di KUHP Baru: Delapan Kategori dan Pidana Pengganti

Pidana Denda di KUHP Baru: Delapan Kategori dan Pidana Pengganti Pasal 30 ayat (1) Wetboek van Strafrecht menetapkan pidana denda paling sedikit tiga rupiah tujuh puluh lima sen. Angka itu lahir dari nilai mata uang era kolonial dan bertahan lebih dari tujuh dekade. Ketika UU No. 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana berlaku penuh pada 2 Januari 2026, struktur pidana denda ikut berubah: minimum umum naik menjadi Rp50.000,00, batas maksimum memakai sistem delapan kategori, dan denda yang belum lunas tidak lagi otomatis berubah menjadi kurungan. Eksekusinya kini berjenjang, dan pilihan hukumannya lebih dari sekadar penjara. Perubahan ini menyentuh praktik sehari-hari advokat dan jaksa. Nominal denda dalam dakwaan dan tuntutan sekarang merujuk kategori, bukan angka tetap dalam rumusan pasal. Nasib orang yang tidak mampu membayar pun mengikuti ketentuan yang jauh lebih terperinci daripada Pasal 30 WvS. Berikut peta lengkapnya. Delapan Kategori dan Minimum Baru Pas...